Warung Shodaqoh Gratis Makan Tiap Jumat untuk Warga Tak Mampu

TRIBUNNEWS.COM.YOGYA -SAAT itu mereka berkumpul untuk mendapatkan makan siang dengan menu sayur lodeh dengan lauk bandeng. Meskipun bernama warung, tetapi “Warung Shodaqoh” tidak memungut bayaran dari siapapun yang makan di sana.

“Saya sebagai tukang becak, yang pendapatan tiap harinya tidak menentu sangat terbantu dengan keberadaan warung ini. Minimal saya bisa makan siang dengan enak,” ungkap Suprihastono, seorang tukang becak saat ditemui di warung yang hanya buka setiap hari Jumat.

Setiap harinya Suprihastono memang mangkal di daerah Gedongkuning, sehingga ia pun menjadi salah satu “pelanggan” Warung Shodaqoh. Warung Shodaqoh Sendiri berdiri sejak awal September 2014 atas inisiatif Yuniana Oktoviati (33).

“Saya membuat Warung Shodaqoh ini berangkat dari keinginan saya untuk berbagi dengan sesama, terlebih saat ini biaya hidup termasuk makan juga semakin mahal,” ungkap perempuan yang akrab disapa Tovie tersebut saat ditemui di Warung Shodaqoh yang terletak di depan kediamaanya, beberapa waktu lalu.

Kami berusaha untuk memberikan makanan yang sehat dan layak kepada saudara kita yang membutuhkan. Biasanya lauk yang kami sediakan berupa ayam, ikan, minimal telor,” ungkap Tovie.

Dipilihnya hari Jumat untuk membuka warung, karena hari tersebut dianggap hari baik oleh umat Islam. Dan dirinya memilih antara jam 11.00 hingga jam 13.00 siang, untuk menyesuaikan waktu makan siang.

Saat awal-awal dirinya mulai membuka Warung Shodaqoh, sering nasi yang disiapkannya tidak habis. Kebanyakan masyarakat mengira harus bayar untuk makan ditempat tersebut meskipun telah ada tulisan gratis di tenda Warung Shodaqoh. Bahkan Tovie harus membungkusi nasi yang tersisa dan kemudian membagikan nasi tersebut ke beberapa titik.

Untuk lebih mengenalkan Warung Shodaqoh, Tovie dan karyawannya yang bekerja di perusahaan batu alam yang dia kelola bersama suaminya harus menyebarkan selebaran

“Saat ini jam 12 aja kadang-kadang sudah habis. Kemarin-kemarin banyak yang minta dibungkus untuk dibawa pulang. Tetapi saat ini boleh bungkus tetapi sejumlah orang yang datang ke warung, supaya bisa rata pembagiannya,” ujar Tovie.

Meskipun ditenda Warung Shodaqoh tertulis kalimat “khusus fakir miskin dan kaum dhuafa”, tetapi sebenarnya siapa saja boleh makan di tempat tersebut.

Untuk saat ini, biaya operasional Warung Shodaqoh ditanggung sendiri oleh Tovie. Tetapi beberapa kali saat dirinya belanja ke pasar ada saja pedagang ikan maupun sayur yang memberikan tambahan ikan dan sayur untuk ikut berbagi. Jika ada orang yang ingin bergabung dalam kegiatan tersebut istri dari Kafrie tersebut akan senang menerimanya.

“Jika ada orang yang bersama-sama ingin berbagi saya akan sangat senang, karena saya juga memiliki keinginan untuk membuka warung sejenis ditempat lain yang bisa lebih menyentuh lebih banyak orang yang membutuhkan, semisal di Alun-alun Utara. Tetapi karena keterbatasan tenaga, hal tersebut belum bisa terwujud,” ungkapnya.

Dirinya tidak ingin memaksakan diri membuka Warung Shodaqoh di tempat lain tetapi tidak bisa buka secara rutin. Dengan membuka Warung Shodaqoh Tovie berharap dapat meringankan sedikit beban dari orang-orang yang kurang beruntung.

“Saya juga berharap akan semakin banyak orang yang mau berbagi dengan saudara kita yang membutuhkan,” pungkas Tovie.(*)

ide awal hingga dia memilih membuka Warung Shodaqoh untuk berbagi, adalah saat Tovie melihat postingan salah satu temannya yang berada di Pemalang yang membuka warung sejenis. Dan sejak awal September tahun lalu, dirinya memutuskan untuk berbagi makanan seminggu sekali setiap hari Jumat dari pukul 11.00 hingga 13.00 siang.

Dibantu dengan pekerjanya, setiap Jumat Tovie menyiapkan 120 hingga 150 porsi makanan, yang terdiri dari nasi, sayur, lauk, dan minuman teh.

Sumber:
https://m.tribunnews.com/regional/2015/06/12/warung-shodaqoh-gratis-makan-tiap-jumat-untuk-warga-tak-mampu

Leave a Reply

Your email address will not be published.